Oleh. Puji
Kaum muslimin begitu suka cita menyambut hari raya idulfitri. Gema takbiran terjadi di seluruh penjuru dunia ini baik di masjid-masjid maupun acara takbiran keliling. Kaum muslimin begitu bersorak gembira ria penuh syukur menyambut hari raya idul fitri setelah satu bulan melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan. Kaum muslimin begitu antusias dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan takbiran, shalat id maupun bersilaturahmi kepada karib kerabat dan saudara.
Idulfitri itu sebagai salah satu sarana untuk menguatkan tali persaudaraan dan membina silaturahmi bagi kaum muslimin. Hal ini menegaskan bahwa kaum muslimin itu ibaratnya satu tubuh, dimana kalau ada salah satu bagian yang sakit maka seluruh tubuh itu akan merasakan rasa sakitnya. Kaum muslimin itu merupakan umat yang terbaik jika mau berpedoman hidup dengan Islam dan Alquran. Persatuan kaum muslimin begitu indah dengan adanya tali silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah sebagaimana yang terjadi saat hari raya idulfitri.
Kalau kita cermati saat idulfitri itu adanya nuansa mudik lebaran untuk bisa silaturahmi bersama keluarga di kampung. Adanya keinginan untuk saling memaafkan juga berkumpul bersama keluarga dengan ketupat lebaran dan bersilaturahmi. Inilah cerminan ajaran Islam yang mengajarkan adanya persatuan umat dengan ukhuwah Islamiyah untuk menjadikan Alquran sebagai rujukan agar bisa meraih kemuliaan. Sampai ada kata kata kupat lepet taline janur, menawi lepat nyuwun pangapura dan andum selamet panjang umur. Memang, budaya silaturahmi dalam Islam itu menambah kerukunan dan menunjukkan bahwa kaum muslimin itu erat ikatannya kalau berdasarkan pada aqidah Islam.
Tetapi, kalau kita lihat nuansa idulfitri dan silaturahmi itu mengalami penurunan tiap tahunnya karena sudah ada gadget. Dimana, untuk bermaaf-maafan tak perlu lagi ketemuan cukup lewat kata kata di gadget. Nuansa mudik juga mengalami penurunan apalagi kalau kondisi keuangan kurang mendukung. Padahal adanya ketemuan langsung bersama keluarga maupun saudara di kampung itu hal yang indah dan bisa salaing maaf maafan secara tatap muka. Tapi itu bisa terkendala adanya gadget maupun kondisi ekonomi yang ada, sehingga adanya keinginan untuk bersilaturahmi di hari raya idul fitri tapi apa daya tak bisa diwujudkan.
Hal ini terjadi karena kita menjadikan sekuler dan kapitalis sebagai rujukan dalam kehidupan. Dimana, kita memisahkan antara agama dengan kehidupan sehingga kaum muslimin mengalami hal ini. Oleh karena itulah, perlunya kita kembali berusaha menjadikan Islam dan Alquran sebagai pedoman dalam kehidupan termasuk dalam masalah idulfitri dan silaturahmi. Alangkah indahnya nuansa persaudaraan dan ukhuwah Islamiyah jika terwujud berdasarkan Alquran.
Wallaahu a'laam bisshawaab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar